ACEH, CIREBON INSIGHT – Hujan deras yang mengguyur wilayah Aceh selama beberapa hari terakhir memicu terjadinya banjir dan tanah longsor di sejumlah kabupaten. Bencana tersebut menyebabkan kerusakan pada rumah warga, fasilitas umum, serta infrastruktur jalan, sehingga aktivitas masyarakat lumpuh dan ribuan warga terdampak langsung.
Di beberapa daerah perbukitan, tanah longsor menutup akses jalan penghubung antar desa. Material longsor berupa tanah, bebatuan, dan pepohonan tumbang menghambat mobilitas warga serta memperlambat penyaluran bantuan. Sementara itu, banjir merendam permukiman yang berada di wilayah dataran rendah dan bantaran sungai, dengan ketinggian air mencapai lutut hingga pinggang orang dewasa.
Bencana ini juga berdampak serius terhadap dunia pendidikan. Sejumlah sekolah mengalami kerusakan akibat terendam banjir dan tertutup lumpur. Ruang kelas, meja, kursi, serta perlengkapan belajar tidak dapat digunakan sebagaimana mestinya. Meski berada dalam keterbatasan, kegiatan sekolah tetap berusaha dijalankan. Di salah satu sekolah terdampak, para siswa mengikuti kegiatan upacara dan belajar di area terbuka dengan kondisi seadanya, karena halaman dan bangunan sekolah belum sepenuhnya dapat digunakan.
Banyak siswa datang ke sekolah tanpa perlengkapan lengkap karena seragam dan buku pelajaran mereka rusak atau hanyut terbawa banjir. Kondisi tersebut menjadi gambaran nyata beratnya dampak bencana terhadap anak-anak usia sekolah. Para guru pun harus beradaptasi dengan situasi darurat agar proses pendidikan tidak terhenti sepenuhnya.
Selain merusak fasilitas pendidikan, banjir dan longsor memaksa ratusan hingga ribuan warga mengungsi ke tempat yang lebih aman. Balai desa, masjid, dan gedung pemerintahan difungsikan sebagai lokasi pengungsian sementara. Para pengungsi membutuhkan bantuan berupa makanan siap saji, air bersih, pakaian layak pakai, selimut, serta layanan kesehatan, terutama bagi anak-anak dan lansia.
Pemerintah daerah bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah, TNI, Polri, dan relawan terus melakukan upaya penanganan darurat. Tim gabungan fokus pada evakuasi warga, pembukaan akses jalan yang tertutup longsor, serta pendistribusian bantuan logistik ke wilayah terdampak. Alat berat dikerahkan untuk membersihkan material longsor dan lumpur yang menutupi jalan serta permukiman warga.
Di sisi lain, pemerintah juga mulai menyiapkan langkah pemulihan pascabencana, termasuk perbaikan sekolah, rumah warga, dan fasilitas umum yang rusak. Masyarakat diimbau tetap waspada terhadap potensi bencana susulan, mengingat kondisi cuaca di Aceh masih berpotensi hujan lebat.
Bencana banjir dan longsor ini menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan dan mitigasi bencana, khususnya di wilayah rawan bencana alam. Diharapkan, melalui kerja sama antara pemerintah dan masyarakat, proses pemulihan dapat berjalan lebih cepat sehingga kehidupan warga Aceh dapat kembali normal. ***





