Wali Kota Cirebon Dorong Pelatihan Kerja Cetak SDM Kompeten dan Siap Bersaing

banner 970x250

CIREBONINSIGHT – Pemerintah Kota Cirebon terus memperkuat peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) melalui program pelatihan kerja berbasis keterampilan. Program tersebut diarahkan untuk membekali masyarakat dengan kompetensi yang sesuai kebutuhan dunia usaha dan industri.

Komitmen tersebut terlihat saat Wali Kota Cirebon Effendi Edo bersama Sekretaris Daerah Kota Cirebon Iing Daiman meninjau kegiatan pelatihan di Unit Pelaksana Teknis (UPT) Latihan Tenaga Kerja Kota Cirebon, Jumat (7/8/2026).

banner 970x250

Kunjungan dilakukan untuk melihat secara langsung proses pelatihan sekaligus memastikan fasilitas yang digunakan masyarakat dalam meningkatkan keterampilan berada dalam kondisi baik.

Salah satu fasilitas yang ditinjau adalah tempat pelatihan pengelasan yang menjadi program baru tahun ini. Effendi menilai fasilitas yang tersedia masih lengkap dan layak untuk menunjang kegiatan pelatihan.

“Setelah saya melihat langsung, fasilitas pelatihan pengelasan di sini sangat baik. Peralatannya masih lengkap, mulai dari mesin las, helm pelindung, jaket keselamatan hingga perlengkapan lainnya semuanya masih berfungsi dengan baik,” ujar Effendi.

Menurutnya, tingginya jumlah pendaftar menunjukkan kebutuhan masyarakat terhadap pelatihan keterampilan masih cukup besar. Program pelatihan pengelasan yang baru dibuka pada Agustus 2026 telah menarik 102 pendaftar.

“Antusiasme masyarakat luar biasa. Baru dibuka saja sudah ada 102 orang yang mendaftar. Ini menjadi motivasi bagi pemerintah untuk terus mengembangkan program pelatihan sesuai kebutuhan masyarakat maupun dunia kerja,” katanya.

Effendi berharap pelatihan tidak hanya menghasilkan tenaga kerja yang mampu memenuhi kebutuhan industri, tetapi juga membuka peluang bagi masyarakat untuk menjadi wirausaha mandiri.

Ia mencontohkan peserta pelatihan pengelasan dapat mengembangkan keterampilannya dengan membuka usaha bengkel las. Pemerintah, lanjutnya, akan terus mengevaluasi kebutuhan pelatihan, termasuk kemungkinan penambahan fasilitas.

Sementara itu, Kepala Dinas Tenaga Kerja Kota Cirebon Ma’ruf Nuryasa mengatakan pendaftaran pelatihan masih dibuka hingga 12 Agustus 2026. Pelatihan pengelasan menjadi salah satu program dengan tingkat peminat tinggi, meski kapasitas awal hanya 16 peserta dalam satu kelas.

“Minat masyarakat sangat tinggi. Untuk pelatihan pengelasan saja jumlah pendaftar sudah melampaui 100 orang. Karena itu kami berencana membuka kelas-kelas berikutnya agar semakin banyak warga yang dapat mengikuti pelatihan,” kata Ma’ruf.

Selain pengelasan, Disnaker Kota Cirebon menyediakan sejumlah program pelatihan lainnya, seperti digital marketing, menjahit, barista, dan barbershop. Materi pelatihan disusun dengan mempertimbangkan perkembangan kebutuhan pasar kerja.

Ma’ruf menegaskan, pelatihan tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan keterampilan peserta. Disnaker juga berupaya memastikan peserta memiliki peluang setelah menyelesaikan pelatihan melalui penguatan kerja sama dengan dunia usaha dan dunia industri.

“Kami ingin hasil akhirnya jelas. Ada peserta yang memilih menjadi wirausaha, ada juga yang ingin bekerja di perusahaan. Karena itu kami sedang membangun kerja sama dengan berbagai pelaku usaha,” ujarnya.

Menurut Ma’ruf, kerja sama tersebut salah satunya akan diterapkan pada pelatihan menjahit. Peserta yang memenuhi kualifikasi nantinya diupayakan dapat disalurkan untuk bekerja di perusahaan mitra.

Program pelatihan kerja juga menjadi bagian dari strategi Pemkot Cirebon dalam menekan angka pengangguran terbuka. Saat ini tingkat pengangguran terbuka di Kota Cirebon berada di angka 6,4 persen, turun dari 6,6 persen pada tahun sebelumnya.

“Salah satu tuntutan dunia kerja saat ini adalah kompetensi. Karena itu kami terus meningkatkan kemampuan para pencari kerja agar mampu bersaing dan beradaptasi dengan kebutuhan industri. Target kami, angka pengangguran terus menurun dari tahun ke tahun,” katanya.

Durasi pelatihan disesuaikan dengan jenis keterampilan yang diberikan. Pelatihan pengelasan berlangsung selama 26 hari, barista selama 18 hari, sedangkan pelatihan lainnya berlangsung antara 10 hingga 26 hari. Kegiatan pelatihan dilaksanakan dari pagi hingga sore.

Salah seorang peserta pelatihan barista, Ofa, mengaku mendapatkan pengalaman baru selama mengikuti program tersebut. Ia sebelumnya tidak memiliki pengetahuan mengenai teknik pembuatan kopi, tetapi merasa materi yang diberikan mudah dipahami karena didukung instruktur berpengalaman.

“Saya benar-benar mulai dari nol, tetapi selama pelatihan semuanya dijelaskan dengan sangat jelas sehingga mudah dipahami. Kami belajar mulai dari teknik seduh manual seperti V60, espresso, kopi susu hingga berbagai metode penyajian lainnya,” kata Ofa.

Bagi Ofa, pelatihan tersebut menjadi bekal awal untuk mewujudkan keinginannya membuka kedai kopi sendiri. Ia menilai industri kopi memiliki prospek yang terus berkembang.

“Saya berharap suatu saat bisa membuka coffee shop sendiri. Selama ini saya hanya menjadi penikmat kopi, sekarang ingin belajar menjadi pembuatnya. Mudah-mudahan ilmu yang didapat dari pelatihan ini bisa menjadi bekal untuk membangun usaha,” ujarnya.

Ia berharap program pelatihan kerja yang diselenggarakan Pemkot Cirebon dapat terus dilanjutkan agar semakin banyak masyarakat memiliki keterampilan yang dapat digunakan untuk bekerja maupun membuka usaha.

“Semoga pelatihan seperti ini terus ada dan bisa melahirkan generasi muda yang unggul, pengusaha-pengusaha sukses dari Kota Cirebon, maupun barista-barista yang andal,” pungkasnya.(Hasan/CirebonInsight)

banner 970x250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *